Yang tidak dibicarakan ketika kita bicara perubahan iklim
Hampir setiap hari kita mengajak masyarakat peduli tentang perubahan iklim, tapi apakah kita sudah berbicara dengan orang yang tepat dengan cara yang tepat? Penelitian bersama Development Dialogue Asia (DDA) dan Communication for Change (C4C) telah mengidentifikasi metode mengkomunikasikan perubahan iklim kepada masyarakat Indonesia yang majemuk.
Di Indonesia, sejumlah organisasi masyarakat sipil (OMS) berusaha membuat masyarakat lebih peduli tentang perubahan iklim dan ikut memitigasi dampaknya. Untuk mendukung agenda itu, kami (Development Dialog Asia bersama Communication for Change) dan Kantar Indonesia mengadakan survei di 34 provinsi dengan 3.490 responden yang ditarik secara acak selama April – Agustus 2021 untuk mengukur tingkat pemahaman orang Indonesia tentang perubahan iklim dan kesediaan mereka mengikuti aksi kolektif untuk melindungi lingkungan hidup.

Survei kami mengungkapkan mayoritas orang Indonesia belum melihat perubahan iklim sebagai hasil perbuatan manusia yang dampaknya sudah mereka lihat atau alami langsung. Kami juga menemukan, walau hanya sedikit orang Indonesia yang pernah melakukan aksi kolektif membela lingkungan, sebagian mengaku mau ikut kegiatan pelestarian lingkungan hidup.

Melanjutkan temuan survei, kami bersama Eye to Eye lalu merancang beberapa pesan komunikasi untuk diuji dalam focus group discussion (FGD) di Jawa, Sumatra, dan Papua, selama bulan Juli - Agustus 2022. Kami mengidentifikasi pesan yang berpotensi membuat orang awam lebih paham tentang fakta dasar perubahan iklim dan tergugah untuk ikut memitigasi dampaknya.

Kami mengundang OMS menerapkan panduan yang telah kami susun agar mampu merangkai pesan yang lebih efektif untuk memajukan agenda iklim masing-masing.

Banyak orang Indonesia tidak tahu kalau mereka salah paham tentang perubahan iklim

Berbeda dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, survei yang kami lakukan bersama Kantar Indonesia dari April sampai Agustus 2021 tidak hanya bertanya ke responden yang berusia 16 - 60 tahun apakah mereka pernah mendengar istilah “perubahan iklim”, tapi juga mengecek apa yang mereka pahami tentangnya.

Meskipun 88% responden mengaku pernah mendengar istilah itu, hanya 44% dari mereka (alias 39% dari populasi) yang bisa menjawab definisi yang benar tentang perubahan iklim. Selain itu, hanya 1 dari 3 responden yang menjawab pemanasan global telah terjadi saat ini, dan kurang dari setengah populasi (47%) yang percaya itu disebabkan terutama oleh manusia. Artinya, banyak orang Indonesia yang tidak tahu kalau mereka sebetulnya salah paham tentang perubahan iklim.
Saat ditanya siapa saja yang akan terkena dampak buruk pemanasan global, lebih sedikit yang menyebut kalangan terdekat (seperti keluarga, lingkungan sekitar, dan diri sendiri) dibandingkan pihak yang abstrak, berjarak dan impersonal (generasi masa depan, flora dan fauna, orang Indonesia). Data ini membuat kami menyimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia merasa bahwa perubahan iklim dan pemanasan global adalah sesuatu yang abstrak, berjarak, dan impersonal. Ini tidak membantu mereka melihat urgensi untuk memitigasi dampaknya, apalagi tergerak untuk terlibat di dalamnya.

Pesan “selimut polusi yang membuat bumi kepanasan” membuat lebih paham

Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat masyarakat lebih paham dan lebih peduli? Kami percaya bahwa pesan tentang perubahan iklim yang efektif mendatangkan perubahan ini adalah yang bisa membuat orang awam bisa membayangkan hubungan antara penyebab perubahan iklim dengan berbagai dampak yang telah mereka alami di lingkungan terdekatnya. Penelitian dari Amerika Serikat mengkonfirmasi bagaimana pesan tentang perubahan iklim yang membawa istilah-istilah asing dan rumit bagi orang awam seperti “emisi gas rumah kaca”, “dekarbonisasi”, “antropogenik” membuat mereka malah justru mengabaikannya.

Sayangnya kami kerap menjumpai contoh-contoh bagaimana bahasa dalam pesan perubahan iklim cukup sukar dicerna orang awam yang belum termotivasi untuk mempelajarinya dengan mendalam. Contoh-contoh ini kami temui dalam penjelasan tentang perubahan iklim yang kami temukan dari laman instansi pemerintah, media nasional, dan unggahan beberapa OMS di media sosial.
Lalu bagaimana cara menjelaskan perubahan iklim dengan singkat, sederhana, dan memikat perhatian orang awam sehingga mereka melihat bahwa ini disebabkan oleh perbuatan manusia dan dampak buruknya sudah terjadi sekarang? Kami menggunakan pendekatan yang sudah teruji efektif di Amerika Serikat dalam menggerakkan para ibu yang sebelumnya “netral” dalam politik iklim untuk mendesak pemerintah daerahnya mengambil tindakan nyata. Pesan ini tertuang dalam video yang aslinya adalah seperti berikut:
Video ini memperlihatkan bahwa perubahan iklim dapat dijelaskan lewat perumpamaan selimut polusi yang membuat bumi kepanasan. Selain menjelaskan tentang penyebab dan dampak perubahan iklim, perumpamaan ini pun bisa memberi gambaran tentang bagaimana memitigasi dampaknya, yaitu berhenti menghasilkan polusi.

Perumpamaan “selimut polusi” ini kami adaptasi dalam pembuatan pesan komunikasi perubahan iklim bagi masyarakat Indonesia. Saat mengadaptasi pesan, kami juga menambahkan faktor “pemberat” perubahan iklim seperti penebangan hutan (sehingga polusi tidak bisa diserap dan akhirnya jadi berkumpul membentuk “selimut”) dan penggunaan batu bara di PLTU (sebagai salah satu sumber polusi utama di Indonesia).

Untuk melihat apakah perumpamaan “selimut polusi” bisa diterima masyarakat Indonesia, selama Juli – Agustus 2022 bersama Eye to Eye kami melakukan 14 focus group discussion (FGD) di Jakarta, Jayapura (Papua), Tarai Bangun (Riau), Kisaran (Sumatera Utara), Tegal, Demak, dan Semarang (Jawa Tengah), dengan responden laki-laki dan perempuan berusia 18 – 49 tahun dan mewakili berbagai tingkat sosio-ekonomi.

Di setiap kelompok, kami menyaksikan reaksi verbal dan nonverbal responden, apapun gender, usia, geografi, dan tingkat sosio-ekonominya, yang mengindikasikan mereka bisa membayangkan bagaimana beberapa kejadian yang mereka lihat dari dekat atau alami langsung adalah konsekuensi dari perubahan iklim.

Lebih paham, malah lebih merasa tak berdaya?

Perumpamaan “selimut polusi yang membuat bumi kepanasan” juga nampak berkaitan dengan keinginan warga menjadi bagian dari solusi untuk menghindari petaka yang lebih besar.

Sepanjang FGD, di satu sisi kami mencatat bahwa satu-satunya solusi yang responden percaya benar-benar ada di tangan mereka adalah menanam pohon di rumah atau lingkungan sekitar. Di sisi lain, jika pesan mengandung faktor “pemberat” berupa penggunaan batu bara di PLTU atau peningkatan polusi sebagai konsekuensi pertumbuhan ekonomi, responden jadi merasa solusi berada di luar jangkauan mereka. Faktor “pemberat” sistemik kelihatannya membuat responden percaya hanya pemerintah yang bisa memecahkan dilema ini, sementara mereka merasa tidak yakin bisa mempengaruhi pemerintah. Akhirnya mereka jadi merasa tidak berdaya.
.
Membuat masyarakat menjadi bagian dari solusi sangat krusial, karena memaparkan ke orang-orang bahwa mereka terancam bahaya besar tanpa menawarkan jalan keluar malah bisa memicu mereka mengabaikan pesan. Dalam ilmu perilaku gejala ini disebut efek burung unta.

Masyarakat bergerak karena tergugah, bukan karena digurui

Agar komunikasi publik OMS efektif dalam menggerakkan warga untuk terlibat dalam aksi kolektif mitigasi dampak perubahan iklim, kita harus lebih dulu menjawab dua pertanyaan berikut:

  • Bagaimana OMS bisa membingkai pesan perubahan iklim agar masyarakat mau mendengarkannya dan bisa membuat mereka merasakan urgensinya?

  • Setelah warga menerima pesan perubahan iklim dari OMS, apa yang kita mau mereka lakukan?

Pesan harus dibingkai nilai moral penerima pesan

Berbagai penelitian mutakhir dalam ilmu perilaku (Feinberg & Willer, 2012; Hurst & Stern, 2020; Wolsko et al., 2016) menunjukkan bahwa pesan yang menggunakan bingkai moralitas yang sesuai dengan penerima efektif menggugah perilaku.

Dalam survei kami yang disebutkan sebelumnya, kami menemukan bahwa 8 dari 10 orang Indonesia mengaku merasa punya kewajiban moral untuk melindungi lingkungan dari kerusakan akibat ulah manusia. Namun dari manakah kewajiban moral ini muncul? Bingkai moralitas seperti apa yang bisa menggugah masyarakat Indonesia?

Selain tentang pemahaman tentang perubahan iklim kami juga menanyakan 20 pertanyaan mengenai pandangan moral yang digunakan responden dalam menilai apakah sebuah perbuatan salah atau benar. Rangkaian pertanyaan ini diadaptasi dari Moral Foundation Questionnaire dari Haidt & Graham (2009). Hasilnya, kami menemukan 9 dari 10 orang Indonesia (93%) memiliki worldview (filosofi hidup atau ide/konsep tertentu yang mempengaruhi interpretasi tentang dunia sekitar) yang bertumpu pada konservatisme.

Di samping cinta kasih pada sesama manusia dan anti penindasan yang nampaknya relevan bagi semua, mereka yang memiliki worldview konservatif menghargai spektrum nilai yang lebih luas, seperti nasionalisme atau patriotisme, azas proporsionalitas, kesetiaan pada kelompok, ketertiban dan stabilitas, kepatuhan terhadap otoritas, dan kesucian atau kemurnian. Sementara itu, orang dengan worldview liberal memprioritaskan cinta kasih pada sesama manusia dan persamaan atau kesetaraan, dan cenderung tidak mementingkan loyalitas, kepatuhan, dan kesucian.

Survei kami juga mengelompokkan populasi Indonesia ke dalam ke dalam 5 segmen berdasarkan pemahaman atas perubahan iklim, dorongan ikut aksi kolektif, dan “worldview”. Pengelompokan ini tidak berkaitan dengan gender dan umur, dan hanya sedikit berkaitan dengan tinggal di desa atau kota. Namun kadang-kadang segmentasi ini berkaitan dengan tingkat sosio-ekonomi, yakni penghasilan, pekerjaan, dan pendidikan. Segmentasi ini diilustrasikan dalam gambar berikut:
Dari diagram, terlihat ada 5 segmen. Namun melihat jumlahnya, kami memprioritaskan 3 segmen berikut:

Konvensional Mapan Peduli (33%)

Mereka adalah kelompok mapan dari segi sosio-ekonomi, dan punya “worldview” yang konvensional namun bukan fundamentalistis. Dibandingkan dengan populasi, Konvensional Mapan Peduli banyak tinggal di kota dan pekerja kerah putih.

Mereka cukup paham tentang perubahan iklim. Mereka pun punya dorongan dan akses untuk mencari tahu tentang isu yang sedang banyak dibahas di media (sosial).
  • Dina (30)
    Eksekutif bank, Jakarta Selatan
  • Satriyo (35)
    Aparat Pemda, Payakumbuh

Penggembira Non Militan (28%)

Segmen ini semangat memasang tanda keanggotaan dari banyak kelompok: kalau luring mengenakan kaos dan pin, kalau daring menggunakan twibbon dan avatar. Mereka bukan prajurit yang maju di garda depan, tapi lebih mirip penyorak dari garis belakang. Secara demografi mereka mirip dengan populasi umum, hanya agak lebih banyak pekerja kerah biru dengan pendapatan menengah.

Pemahaman mereka tentang perubahan iklim sama dengan populasi. Namun dalam “worldview” mereka paling “tipis” dalam hal konservatisme, walau mereka tidak bisa digolongkan liberal. Mereka sedikit lebih terbuka akan (atau setidaknya tidak langsung menolak) narasi liberal. Narasi yang paling beresonansi buat mereka adalah yang berputar pada kebersamaan dan kerukunan dalam keberagaman. Mereka paling tidak keberatan dianggap sebagai aktivis, walau ini tidak serta-merta berarti pernah atau ingin terlibat aksi kolektif.
  • Novia (19)
    Pengemudi ojol, Semarang
  • Jepri (38)
    Penjaga gerai ponsel, Bekasi

Penjaga Tempat Kami (27%)

Dibandingkan dengan populasi, Penjaga Tempat Kami lebih banyak bekerja di pertanian atau sebagai ibu rumah tangga. Mereka tidak berminat untuk mengikuti “kegaduhan di dunia luar”, dan dibandingkan dengan populasi mereka kurang kenal perubahan iklim. Selain itu, lebih sedikit dari mereka yang berniat dan pernah ikut aksi kolektif.

Namun, mereka merasa amat terpanggil untuk melindungi apa yang selama ini menjadi tumpuan komunitasnya. Mereka lebih konservatif daripada populasi, tapi loyalitas mereka tercurahkan pada lingkar terdekat.
  • Risda (49)
    Buruh tani, Bengkulu
  • Damar (42)
    Petugas satpam. Gunung Kidul
Pesan perubahan iklim yang ditujukan kepada tiga segmen di atas perlu dibingkai dengan cara yang berbeda-beda. Misalnya untuk segmen Konvensional Mapan Peduli dan Penggembira Non-militan pesan bisa dibingkai dengan: “menjaga keluarga, terutama anak-anak”. Dalam konteks yang sesuai, pesan untuk segmen Konvensional Mapan Peduli juga bisa dibingkai dengan narasi “menjaga alam adalah menjaga titipan Tuhan” dan bisa disampaikan lewat pemuka agama.

Pesan untuk segmen Penggembira Non-militan juga bisa dibingkai dengan narasi “kita semua tidak bisa bahagia (aman, tenteram, sehat) jika tidak semua dari kita bisa bahagia (aman, tenteram, sehat)”, yang membangkitkan rasa solidaritas lokal.

Sementara untuk segmen Penjaga Tempat Kami, pesan bisa dibingkai dengan narasi bahwa menjaga alam dari perubahan iklim akan mempertahankan sumber nafkah dan cara hidup mereka selama ini.

Tak kalah penting, pembawa pesan yang akan didengarkan oleh semua segmen adalah mereka yang akan dinilai sebagai “orang-orang seperti kita”. Karena itu, pikirkan ulang menggunakan juru bicara pejabat atau ahli yang tidak punya kemiripan dengan penerima pesan.

Pesan akan berdampak jika penerimanya mau dan merasa mampu terlibat

OMS menyampaikan pesan karena kita ingin si penerima melakukan sesuatu untuk memajukan agenda iklimnya. Namun survei kami menemukan bahwa hanya sedikit (18%) orang Indonesia yang pernah mengikuti aksi kolektif membela lingkungan. Mereka pun mengaku lebih berminat mengikuti aksi yang risikonya kecil, seperti donasi atau menjadi relawan lepasan. Artinya, OMS harus menawarkan cara-cara masyarakat untuk berpartisipasi dengan berbagai tingkat risiko dan keterlibatan.
Menyeimbangkan antara majunya agenda OMS dengan kapasitas dan toleransi risiko warga untuk aksi kolektif memang tidak mudah, tapi penting dilakukan. Oleh karena itu dalam berkomunikasi publik tentang perubahan iklim, OMS perlu menambahkan seruan aksi yang tidak “membuat gentar” masyarakat, namun tetap bisa memajukan agenda organisasi.

Sejarah mencatat, keberagaman cara partisipasi warga dalam aksi kolektif bukanlah kekurangan (“bug”) dari gerakan sosial yang sukses mencapai tujuan besar, namun justru merupakan salah satu fitur utama. Sebagai contoh, dalam sejarah perjuangan kesetaraan hak-hak sipil masyarakat Afrika-Amerika, kita mengenal pengorbanan sosok-sosok heroik (Martin Luther King Jr. atau Rosa Park) dan aksi langsung yang menumpahkan darah (Freedom Riders atau mars dari Selma ke Montgomery) .Namun pergerakan ini juga didukung oleh berbagai figur dengan peranan mereka masing-masing, seperti salah satunya Georgia Gilmore, seorang koki perempuan yang memberikan dukungan kepada pergerakan melalui masakannya.
Georgia Gilmore
Juru masak pergerakan Civil Rights di Amerika Serikat
Gilmore membentuk kelompok bernama Club from Nowhere dan menjual kue dan roti selama aksi boikot bis kota sepanjang 280 hari, 1955-56 di Montgomery, Alabama, Amerika Serikat. Beliau juga memasak untuk para aktivis dan pengunjuk rasa dalam penyeberangan ke Selma, 1965.
Georgia Gilmore
Juru masak pergerakan Civil Rights di Amerika Serikat
Gilmore membentuk kelompok bernama Club from Nowhere dan menjual kue dan roti selama aksi boikot bis kota sepanjang 280 hari, 1955-56 di Montgomery, Alabama, Amerika Serikat. Beliau juga memasak untuk para aktivis dan pengunjuk rasa dalam penyeberangan ke Selma, 1965.
Dengan menggunakan pesan yang tepat, kita bisa membangkitkan optimisme dan menggugah masyarakat untuk melakukan aksi sehingga kita dapat menemukan banyak Georgia Gilmore lainnya untuk berjalan bersama dalam perjuangan kita.
Dalami risetnya, sebarkan pesannya
Jika Anda tertarik untuk membaca penelitian ini secara lebih dalam dan ingin mendapat panduan mendetail untuk meramu pesan, silakan isi form di bawah.
Kontak
Punya pertanyaan atau masukan tentang artikel ini, penelitian, atau panduan membuat pesan?
Hubungi kami di
Communication for Change
Beltway Office Park B501
Jalan TB Simatupang 41
Jakarta 12550
WhatsApp: +62 -89-666-666-727
Email: panduan@communicationforchange.id